Laman

Minggu, 19 Desember 2010

Bencana dan Musibah di Negeri yang lucu ini.

Sebagai orang yang beragama, kita mengakui bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya dengan berbagai cara kejadiannya sendiri-sendiri. Kita juga menyadari dan menundukkan kepala menyaksikan kecilnya manusia di hadapan Allah dengan kejadian kejadian bencana yang ditimpakan kepada manusia. Hanya dalam hitungan detik, irama kehidupan yang serba beraturan harus menyerah pada dinamika bumi tempat berpijaknya.

Dalam ketidakberdayaan manusia ditengah peristiwa peristiwa mahabesar itu, masih tersisa pertanyaan yang mengganjal. Adakah yang bisa kita lakukan untuk menghadapi bencana ? Apakah kita sudah mempersiapkan diri untuk bisa meneruskan proses peradaban ditengah irama alam yang spektakuler itu ?

Alam tidak selamanya bersahabat dengan manusia. Itulah alasan logis, karena manusia mengeksploitasi alam di luar batas normal. Dengan kata lain, musibah dan bencana terjadi ketika alam tidak lagi berada pada garis keseimbangan yang merupakan ekses dari perbuatan manusia itu (aydin naas).

Bencana alam yang menimpa negeri ini terjadi silih berganti. Tsunami 26 Desember 2004 di Aceh merenggut korban lebih 230.000 orang. Belum dua tahun tsunami terjadi, gempa tektonik menimpa Yogyakarta dengan skala 6.2 SR pada tanggal 27 Mei 2006. Musibah ini juga memakan korban yang tidak sedikit.

Tangisan mengiringi kematian penumpang Kereta Api Argo Bromo yang bertabrakan dengan Senja Utama. Tangisan mereka adalah tangisan Indonesia. Duka rasanya belum berakhir, banjir Wasior datang menerjang. Tidak hanya rumah dan harta benda, ratusan manusia direnggut nyawa. Kita juga menyaksikan betapa dahsyatnya tsunami meluluhlantakan Mentawai, 26 Oktober lalu. Belum reda luka Mentawai, Gunung Merapi di Jogjakarta juga meletus dan diikuti oleh gunung gunung api lainnya.

Berdasarkan umur batuan meteorit tertua yang ditemukan para ahli,  usia bumi semakin tua yaitu sekitar 5 milyar tahun. Diawali dengan gas pijar panas yang kemudian berangsur angsur mendingin lalu terbentuklah permukaan bumi atau kulit bumi yang keras namun bagian dalam bumi masih berupa cairan pijar panas membara atau disebut magma. Jadi sebenarnya kita hidup diatas tanah yang berbentuk bola yang didalamnya menyimpan api membara. Dan sungguh menakjubkan dimana Sang Pencipta bumi telah membuat bumi sebagai planet yang teraman untuk dihuni oleh manusia. Sungguh ironi ketika manusia menerima hujan yang begitu banyak dan mereka merasa cemas serta yang terbayang adalah bencana seperti banjir dan longsor. Sepatutnyalah kita bertafakur mengapa hujan yang sebenarnya rahmat namun malah menjadi bencana.

"Telah tsabit dari KhalifahAr-Rasyid Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, bahwasannya ketika terjadi musibah gempa di zaman beliau, maka beliau menulis surat kepada seluruh jajarannya di seluruh daerah berisi PERINTAH agar mereka memerintahkan kaum muslimin untuk bertaubat kepada Allah Ta'ala, memohon kepada-Nya dan minta ampunan dosa-dosa yang mereka kerjakan." [Majmu' Fatawa Bin Baz rahimahullah, 2/129]

Sungguh tepatlah apa yang dilakukan oleh pemimpin kaum muslimin ini, sebab bencana yang menimpa manusia, tidak lain karena dosa yang mereka kerjakan. Allah
سبحانه وتعالى berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُم...ْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

"Dan musibah apapun yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)." (Asy-Syuraa: 30)

Allah
سبحانه وتعالى juga berfirman:

فَكُلاًّ أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ اْلأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

"Maka masing-masing (mereka itu) Kami adzab disebabkan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan (dalam air), dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (Al-'Ankabut: 40)

Namun bagi orang-orang beriman, ahlut tauhid was sunnah, bencana adalah UJIAN bagi mereka, yang dengannya Allah Ta'ala menghapus dosa mereka, meninggikan derajat mereka, dan melimpahkan pahala yang tidak terhitung jika mereka SABAR dan RIDHO dalam menghadapi ujian tersebut. Allah
سبحانه وتعالى berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun"." (Al-Baqarah: 155-156)

Nabi shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

ما من مصيبة تصيب المسلم إلا كفر الله بها عنه حتى الشوكة يشاكها

"Tidaklah ada suatu musibah yang menimpa seorang muslim, hingga duri yang menusuknya, kecuali itu akan menjadi penghapus dosanya." [HR. Bukhari dan Muslim]

Juga sabda beliau shallallahu'alaihi wa sallam:

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء و إن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم فمن رضي فله الرضا و من سخط فله السخط

"Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah Ta'ala, apabila mencintai suatu kaum maka Allah Timpakan kepada mereka bala', barangsiapa ridho dengannya maka Allah pun ridho kepadanya, barangsiapa yang marah dengannya maka Allah pun marah kepadanya." [HR. TIrmidzi, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihil Jami', no. 2110]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar